Dia sudah menjauh tetapi, aku tetap bertahan sampai sekarang.

Dia sudah menjauh, tetapi aku tetap saja bertahan. Aku tahu dan aku sadar, namun aku tetap tak mampu ikut meninggalkannya sebagaimana dia mulai menghindariku pelan-pelan. Bahkan aku terasa sangat bodoh saat sudah paham, dia yang ku sayang tidak lagi menyayangiku sekarang, tetap saja aku bersabar dan memperjuangkan.

Aku tidak tahu kapan bisa mengambil keputusan untuk melepaskan. Yang ada sekarang hanya berharap bisa bersama dia terus padahal dia sendiri sudah tidak becus. Ini benar-benar sikap yang aneh dalam hidupku. Benar-benar tidak sehat pikiran dan hatiku. Sehingga tampak begitu lumpuh.

Kenapa begitu berat rasa nya menggerakkan perasaan untuk melepaskan. Misalnya mulai menghapus keinginan dan harapan yang selalu menguat dan menggenggam dia. Terlalu susah rasa nya mengendurkan hati yang selalu kencang mengikat dia. Padahal, bukan tidak mungkin semua akan lebih baik, jika di biarkan berlalu saja semuanya.

Sudah tahu dia berubah tidak punya rasa lagi, masih saja hati menunggu dia setiap waktu. Ini cinta atau aku yang sungguh bodoh. Entahlah benar-benar jadi budak perasaan sendiri. Ini yang tidak aku inginkan dalam hubungan. Terlalu menyakitkan bila harus kehilangan lagi.

Sudah sadar dia pergi, masih kuharapkan sampai-sampai setiap hari memikirkan dia terus. Badan ikut kurus. Apalagi otak, penuh dengan lara dan gundah. Perasaan terenyuh terus menerus, bagai ada yang mengekang dan menekan. Padahal itu hanya bayangan semata atau harapan yang memperburuk goresan luka.